KAB. BOGOR – Tidak banyak pemimpin yang mendapat dukungan tulus dari warganya dalam menjalankan program. Kades Parakan Jaya, Bp. Sanim adalah salah satu yang mendapatkan dukungan itu. Berawal dari keinginan tulus ingin membangun masyarakat di desaya agar hidup lebih maju, Bapak dari tiga putra ini terus berbenah desa.

“Mengingat usia, apa yang saya perbuat ini bukan untuk saya, tapi untuk masyarakat di desa ini, untuk anak cucu kita juga”, ujarnya. “Awalnya memang tidak mudah untuk mengajak jajaran & warga, namun setelah mereka melihat kesungguhan saya, lambat laun mereka mulai percaya & mendukung”, tambahnya.

Visinya sederhana, namun sudah terlihat realisasinya dari apa yang sudah & akan diperbuatnya bagi desa ini. Dengan figur kebapakannya, ia berhasil mengajak warganya untuk berperanserta dalam pembangunan desa. Diantaranya peran mereka dalam andil pembebasan lahan untuk perluasan kantor desa yang lebih refresentatif. Dari lahan 246 M2 senilai Rp 86.100.000,- sebesar Rp 36.100.000,-nya adalah hasil swadaya warganya, selebihnya bantuan Pemkab. Itupun bisa direalisasikan Pemkab karena melihat kesungguhan, kejujuran & prestasi yang sudah diraih Desa Parakan Jaya.

“Ibadah bukan hanya membangun mesjid, membangun desa untuk kemaslahatan bersama adalah bentuk ibadah juga”, demikian ajakan yang disampaikan Sanim terhadap warganya agar mau berpartisipasi. Adapun rencana anggaran biaya untuk pembangunannya adalah Rp 213.126.000,- yang sumber pendanaannya berasal dari swadaya masyarakat, donatur & pemerintah. Jangka waktu proyek 24 bulan. Rencananya kantor desa ini akan menjadi center point pelayanan satu atap, untuk berbagai aktivitas warganya. Selain administrasi kependudukan biasa, juga keperluan pembayaran rekening, sarana pertemuan warga, olahraga & kesenian, parkir, dsb. “Dana yang terkumpul memang untuk keperluan pembangunan itu, tidak untuk macam-macam”, ujarnya meyakinkan.

BOGORAYA pun sempat melihat langsung, bagaimana besarnya dukungan & partisipasi warga dalam membangun desa pada saat peresmian perbaikan drainase di desa ini. Selain bergotong royong dalam pengerjaannya, merekapun berswadaya dalam menutupi kekurangan dananya.

Mengenai kendala yang ada di wilayahnya, Kades ini menuturkan tentang jebolnya setu Salabenda sejak 2009, sehingga pengairan di desa menjadi terganggu. “Padahal setu ini selain digunakan oleh warga kami, juga dimanfaatkan oleh warga desa Kemang & Pabuaran”, jelasnya. Untuk itu ia berharap pemerintah provinsi segera merealisasikan perbaikan setu ini.

Masalah lainnya adalah tentang aliran air tatkala hujan, yang tidak bisa mengalir ke kali angke, karena sudah dipenuhi bangunan-bangunan pedagang & rumah. Untuk itu ia berharap kepada Dinas Pengairaan selaku pengelola lahan itu agar bertindak tegas, karena bagaimanapun, desa inilah yang menanggung akibatnya, seperti banjir, kotor, kumuh, jalan cepat rusak, dsb.