Jurnal INDONESIA, KOTA BOGOR–Madiun, 15 Oktober 1971. Itulah awal perjalanan hidup seorang Wawan Pujiatmoko, yang kelak menjadi salah satu perwira TNI di Republik ini. Jurnal INDONESIA kembali berkesempatan berbincang dengannya, beberapa hari usai pelantikannya sebagai Komandan Yonif 315/Garuda.

(Mayor Inf Wawan Pujiatmoko bersama Danrem 061/SK)

Kilas balik awalnya bergabung dalam TNI. “Dengan mempelajari sejarah bangsa, saya jadi termotivasi untuk bergabung menjadi anggota TNI. Suatu kebanggaan, bisa membela dan mempertahankan negara, sebagai pahlawan”, ungkapnya. Akhirnya, perjalanan hidup membawanya pada idealisme itu.

Tentang perjalanan karier militernya, suami dari R. Desy Tejaningrum ini bercerita bahwa ia sempat bergabung dengan Batalyon Infanteri 323 Buaya Putih, lalu ditugaskan belajar di Jawa Barat selama 9 tahun. Karier terus bergerak: menjadi Danton, Dankiban, Kasi Ops, lalu Dankia.

Selanjutnya ia pernah ditugaskan di Kostrad Cilodong sebagai Kasi Teritorial selama 2,5 tahun. Diteruskan ke Brigif Linud 3 Kostrad, lalu menjadi Kasi Ops Brigade Wadan Yonif Linud 431/Makasar.

Untuk menunjang kariernya, ia lalu ditugaskan untuk mengikuti pendidikan Seskoad di Bandung selama 10 bulan. Pulang dari pendidikan tersebut, jabatan sebagai Kasi Ops di Korem 061/Suryakancana sudah menantinya, iapun menjalaninya hanya empat bulan, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Komandan Batalyon Infanteri 315/Garuda sekarang ini.

Dikisahkannya pula beberapa pengalaman menarik selama karier militer. Semua program & tugas dijalani tentara ini dengan sukses. Diantaraya ketika menjadi Kasi Ops Brigadir, dia yang menyusun rencana latihan operasi lintas udara, yang merupakan tugas operasi khusus yang dilaksananakan apabila membutuhkan waktu cepat.

Pada akhir 1999 sampai awal 2001, Wawan ditugaskan di perbatasan RI-Panua Nugini, lalu selama 14 bulan di Marauke. Tujuan operasi ini untuk menurunkan perlawanan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dengan pendekatan persuasif, tentara yang ramah ini  mampu menyadarkan mereka untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

“Umumnya, para milisi OPM itu ternyata tidak tahu apa-apa tentang tujuan perlawanan mereka, rata-rata tidak berpendidikan, bergerak di hutan-hutan dengan senjata rakitan, panah, tombak. Mereka hanya ikut-ikutan & diprovokasi oleh pimpinannya. Untuk makan saja susah, mereka kelaparan di hutan. Maka kami coba sadarkan mereka dengan pendekatan persuasif. Tentang makna kehidupan sejati mereka, tentang negara kesatuan Indonesia. Dan, daripada susah makan dan dikejar-kejar TNI, kan lebih baik mereka kembali, hidup normal. Lalu kami berikan bantuan kepada mereka yang mau turun gunung, berupa sembako, penyuluhan pertanian, perkebunan, dsb. Akhirnya mereka mau turun & kembali ke masyarakat. Waktu itu yang turun ada 40 KK dengan 40 pucuk senjata”, jelasnya.

Selanjutnya, pada 2003 Wawan ditugaskan di AcehTengah selama 13 bulan dalam operasi pemulihan keamanan. Dua tahun kemudian, 2005, dikirim kembali ke Aceh Utara dalam operasi yang sama, bertindak sebagai Kasi Opsatgaspur II. Dalam operasi itulah, ia bersama pasukannya sering terjadi kontak senjata dengan milisi separatis, sehingga banyak anggota & perwira TNI yang gugur dalam tugas.

Tentang resiko seorang tentara yang juga terkadang harus di kirim ke luar kota, ia mengakui, di saat-saat seperti itulah ia kadang merasa rindu dengan keluarga. Hal yang wajar dialami tentara yang ditugaskan jauh dari keluarga. Maka disela waktu senggang, disempatkannya untuk komunikasi dengan isterinya di rumah, seorang isteri yang selalu mendo’akan suami tercintanya agar dijauhkan dari segala musibah, marabahaya dan bisa melaksanakan tugas dengan baik & berhasil.

Dalam menjalankan tugas barunya sebagai Danyonif, ia berharap Danyonif 315 bisa menjalankan tugas pokoknya dengan baik. Diantara tugas pokoknya ini adalah menjaga kedaulatan, melaksanakan tugas pertempuran dan tugas-tugas militer selain perang, seperti membantu kepolisian, pemerintah daerah, juga membantu penanggulangan bencana serta pembinaan teritorial. Yonif 315 juga diharapkan mampu berkontribusi pada kesatuan. Selain itu juga bisa berprestasi di bidang olahraga, baik olahraga militer maupun umum.

Komandan yang sudah terbiasa dengan cara-cara persuasif inipun akan selalu melakukan pendekatan dengan masyarakat. “Kami selalu ingin menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat, karena TNI juga bagian dari masyarakat. Kami perlu terus bersilaturrahim, sehingga terjalin hubungan yang harmonis. Pada akhirnya, kemanunggalan antara TNI dengan rakyat akan tercapai”, ungkapnya.

Karena itu, ia memberi arahan tegas pada pasukannya untuk tidak melakukan pelanggaran, karena setiap pelanggaran, pasti ada resikonya. Diantara kebijakannya, Danyonif ini melarang anggotanya untuk mendekati tempat-tempat hiburan malam, seperti night club, discotik, lokalisasi, dsb yang bisa mengundang pelanggaran itu.

Mengenai pandangannya tentang Indonesia, ia yakin bahwa negeri memang luar biasa. Sangat kaya dan suatu saat akan jaya. Disadari pula tentang pihak-pihak luar yang tidak menginginkan hal itu terjadi, sehingga mereka selalu berusaha menghambat perkembangan kita.

Untuk itu, Komandan dari kesatuan dengan motto: “Berani-Tegar-Setia” ini menilai, harus ada perbaikan moralitas bangsa, peningkatan wawasan  dan rasa kebangsaan yang mulai luntur di tengah masyarakat, juga di lingkungan penyelenggara negara. Tentang moralitas anggota-anggota dewan dan pejabat-pejabat yang korup, ia menilai, “Mereka tidak memikirkan kepentingan rakyat. Parpol banyak, tapi hanya melahirkan keputusan-keputusan parpol, bukan kehendak rakyat banyak. Kondisi seperti itu sudah merajalela, sangat memprihatinkan”, ungkapnya.

Karenanya, ia berkomitmen terhadap sikap TNI sebagai alat Negara, bukan alat pemerintah, apalagi parpol. “Politik TNI adalah politik negara. TNI akan tetap solid sebagai alat pertahanan Negara”, pungkasnya menutup perbincangan dengan Jurnal INDONESIA. (Adhie)