Jurnal INDONESIA, KOTA BOGOR— Keberhasilan yang diraih Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bantar Jati 9, Yayah Komariyah, M.Pd dalam meraih Adiwiyata Mandiri dari Presiden RI, rupanya tidak berhenti sampai di situ. Yayah kembali meraih prestasi yang membanggakan bagi dunia pendidikan di Kota Bogor.

Kali ini, pendidik cinta lingkungan ini terpilih sebagai juara kedua Kepala Sekolah berprestasi Kelompok SD Tingkat Provinsi Jawa Barat.  Keberhasilan yang diraih Yayah sekaligus akan dinobatkan menjadi “Teacher Of The Year 2011 ”  oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bertepatan dengan Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 66  tingkat Provinsi Jawa Barat di Bandung, 17 Agustus mendatang.

Pemilihan Kepsek berprestasi kelompok SD Tingkat Provinsi Jawa Barat diikuti oleh 14 Kepsek se-Jawa Barat.  Yayah terpilih menjadi Kepsek berprestasi kedua dengan jumlah nilai 75, 104,  Sedangkan terbaik pertama diraih oleh Sada Spd MMPd dari Kota Depok jumlah nilai 75,291 dan terbaik ketiga  Hj. Neni Mulyaningsih MMPd dari Kota Sukabumi dengan jumlah nilai 73,40.

Yayah Komariah mengaku, bahwa keberhasilan yang diraihnya tidak terlepas dari pembinaan Dinas Pendidikan Kota Bogor. “ Ini adalah keberhasilan dunia pendidikan Kota Bogor, “ ujarnya.

Karena itulah Yayah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya Kepala Dinas Pendidikan yang telah mempercayakan dirinya untuk mewakili kepala–kepala sekolah SD se Kota Bogor dalam ajang pemilihan Kepsek tingkat Provinsi Jawa Barat.

Penilaian yang dilakukan dalam pemilihan Kepsek berprestasi tingkat Jawa Barat yaitu tes tertulis meliputi kepribadian (psikotes) dan kompetensi kepala sekolah. Kemudian pesentasi yang meliputi kompetensi manajerial, kompetensi suvervisi, kompetensi sosial dan kepribadian, deskripsi diri, kewirausahaan, Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan presentasi.

Sementara, mengenai Pendidikan Lingkungan Hidup yang diterapkan di sekolah ini, Jurnal INDONESIA melihat bahwa di sini, Pendidikan Lingkungan Hidup bukan sekedar teori, tapi betul-betul dijiwai & diterapkan oleh setiap siswa dan pengelola sekolah. Anak-anakpun dilibatkan dan sudah terbiasa dengan budaya cinta lingkungan. Tidak ada satupun yang luput dari sentuhan cinta lingkungan. Tak ada sampah, air, minyak jelantah, koran bekas, dll yang terbuang percuma, semua bisa dimanfaatkan. Sampah dedaunan menjadi pupuk organic, sampah kertas & plastik menjadi peralatan penunjang belajar seperti tas, jas hujan, dsb. 

Adhie/Agustika, adi@jurnal-indonesia.net )